Manusia Hebat Itu Tak Terlahir Dari Gagahnya Merumuskan Sebuah Gagasan

Pers Dialektika - Aku punya sahabat namanya Nurhayati. Aku kenal saat pertama kali dirinya mempresentasikan sebuah materi tentang Aqidah saat proses pembelajaran di Kelas.

Perawakannya kurus dan tinggi. Dan tentunya ada banyak pelajaran hidup bagiku usai mengenalnya.

Pertama, aku tahu bahwa dia adalah wanita pekerja keras untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Hal tersebut mulai aku ketahui ketika dia satu kelompok di beberapa tugas mata perkuliahan denganku.

Dulu, mungkin aku mengira dia adalah seorang wanita yang sangat keras kepala. Kenapa coba? Tiap jam aku merasa di teror olehnya.

"Muklas gimana tugas. Sudah selesai kah?"

"Bantu aku dong bikin tugas."

"Kamu cari materinya yah, biar nanti aku yang nulis makalahnya."

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang dulu kuanggap sebagai sebuah teror tersebut.

Setelah aku pahami gerak-geriknya, itu memang ternyata karakter dari kepribadiannya saja yang pekerja keras. Serta kepribadiannya yang gengsi, jika seorang wanita itu hidup dalam bermalas-malasan.

Sebagai seorang laki-laki, aku tentu merasa tertampar dong. Maksudnya, masa aku harus kalah semangatnya oleh seorang wanita. Dari situlah aku akhirnya mengevaluasi diri, dan segera memperbaiki hal-hal yang dapat mengancam kesehatan masa depanku.

Kedua, konsentrasi serta kreativitas Nurhayati dalam dunia nyata bagiku patut kita acungkan jempol. Terbukti dengan dia yang membuka usaha-usaha kecil di rumahnya.

Aku ngga tau bentuk usahanya seperti apa, karena sejujurnya aku belum pernah menyempatkan waktu lagi untuk main ke sana. Pantauanku di status-status media sosialnya mah, kalau tidak salah dia lagi menggeluti penjualan seublak. 

Ketiga, semangatnya yang tinggi untuk bisa menguasai berbagai hal apa saja. Menulis misalnya, merangkai lukisan-lukisan ilustrasi untuk di publikasikan pada Tabloid Pers Dialektika nanti, memperbaiki kadar literasinya, dan lain sebagainya.

Pernah pada suatu hari, aku diminta olehnya untuk mengajarkannya cara memasang angka di setiap halaman-halaman yang ada dalam makalah. Sebisanya aku arahkan dia melalui pesan-pesan (WhatsApp) singkat.

Padahal sejujurnya aku juga belajar hal tersebut itu dari YouTube, atau mencari literatur-literaturnya dari mesin pencari Google. 

Begitulah sedikit tentang sahabatku yang satu ini. Dan untuk selanjutnya, nanti kawan-kawan bisa langsung datangi saja ya orangnya. Ajak dia bersahabat, belajar nulis bareng, atau belajar melukis dan belajar melakukan kegiatan usaha-usaha kecil lainnya. (*/Red)

Posting Komentar

0 Komentar